2/23/2013

SINOPSIS NOVEL SI DUL ANAK JAKARTA

Diposkan oleh clarissa jovani di 01.56

Sinopsis Novel

     Abdul Hamid biasa dipanggil si Dul adalah seorang anak yang baik. Dia sangat menghormati orangtuanya dan dia senang bermain dengan anak laki-laki maupun perempuan. Saat itu si Dul sedang bermain dengan Asnah, mereka bermain masak-masakan. Sapii teman si Dul yang lain ikut bermain tetapi dia sedang kesal ada 2 orang teman sebayanya menganggu. Sapii adalah anak pemarah dan ringan tangan, sehingga permainan itu terganggu karena dia melampiaskan marahnya disitu. Asnah pun menangis karena semua mainannya rusak dan ia melempar Sapii dengan cabai dan lari ke pohon sauh. Mata sapi terasa perih dan ia ingin membalasnya tetapi Asnah membawa pisau.
     Si Dul yang mengambil barang dirumahnya itu mendengar tangis Asnah, lalu ia berlari mendekati Asnah dan bertanya mengapa ia menangis, tetapi Asnah tidak menjawab dan melihat ke arah Sapii di dekat tempat dia bermain tadi dengan semua barang yang berantakan. Si Dul mendekati Sapii dan bertanya mengapa Asnah menangis, tetapi Sapii malah menantang si Dul berkelahi. Si Dul berpikir, badan Sapii yang besar tridak menjadi masalah baginya tetapi karena dia bersama dengan Saari. Akhirnya berkelahilah mereka, Sapii yang terkena tinju beberapa kali meminta bantuan Saari. Saari akan menangkap si Dul dari belakang tetapi dia terkena tendangan si Dul, anak-anak kampong mulai mengerubungi dan menyemangati si Dul dan Saapi.
     Ibu si Dul yang mendengar kegaduhan di luar rumah akhirnya keluar dan menghentikan perkelahian, anak-anak berlari meninggalkan tempat tersebut. Tetapi Sapii belum puas dan menantang si Dul di lain waktu. Si Dul pulang ke rumah bersama ibunya. Dan sesampai di rumah ia dimandikan oleh ibunya. Setelah mandi ia tidak boleh bermain keluar.
     Si dul bermain sendirian di rumah, meski pintu pagar terbuka dia tidak berani keluar karena takut durhaka kepada ibunya. Dia duduk dan berpikir kalau dia bertemu Sapii lagi dia akan memukul perutnya dan menendang kepalanya sampai Sapii makan tanah. Dia pun bermain di luar rumah tetapi tidak melewati pagar. Si Dul bermsin dengan Asnah dan teman perempuannya yang lain, tidak terasa waktu sudah sore, si Dul pun harus pergi mengaji.
     Si Dul mengaji dirumah Uak Salim yang tidak lain adalah engkongnya sendiri. Ia adalah mantan jawara di kampong sehingga orang-orang takut kepadanya. Matanya hanya tinggal satu yang kiri, tapi tiada yang tau kenapa mata yang kanan itu, karena setiap ditanya dia tidak pernah menjawab. Semenjak matanya tinggal satu ia menjadi orang baik dan mengajar mengaji anak-anak. Meski seperti itu, kadang-kadang keluar juga sifat pemarahnya seperti waktu muda. Ia mendapat uang dari sedekah anak-anak yang mengaji, sedekahnya itu dibelikan kambing. Sehingga sesudah anak-anak mengaji mendapat giliran piket membersihkan ruangan dan member makan kambing.
     Sekarang giliran si Dul member makan kambing. Tetapi si Dul kesal dengan kambing itu karena pernah ditarik dan dibawa keliling kampong oleh kambing itu. Kali itu ia mencari makan bersama Amje, Mamat, dan Dedek, karena jauh dari hutan mereka pun mencuri daun di perkarangan orang, dan si Dul yang memanjat pohon. Saat si Dul mendapat beberapa daun pemilik rumah datang, teman-teman si Dul pun lari membawa daun tersebut dengan meninggalkan si Dul. Pemilik rumah mengejar si Dul sambil membawa kayu, si Dul merasa takut tetapi dia bisa lolos. Dan sesampai di kandang sudah dilihatnya daun yang diambil tadi. Engkongnya bertanya mana daun milik si Dul dan si Dul menjawab daunnya sudah bersama teman-temannya tadi. Tetapi engkongnya tidak percaya dan menyuruh si Dul mencari daun lagi, dan diletakkan kembali ke dalam kandang.
     Lalu si Dul pulang, di perjalanan pulang ia bertemu dengan Amje, si Dul marah kepada Amje karena telah membohonginya. Mereka berkelahi dengan hebat. Amje terluka dan pulang ke rumahnya, sedangkan si Dul terkena gigitan Amje di lengannya. Ibu si Dul mengetahahui hal itu dan memarahinya, sedangkan bapaknya malah menyuruh makan dan mengganti pakaian. Setelah itu bapaknya bercerita kepada si Dul, sewaktu masih keciul dia sama dengan si Dul malahan lebih parah lagi, dia jawara dikampungnya. Lebaran hampir tiba, si Dul berkata ia ingin sekolah tetapi bapaknya melarang karena ia hanya anak kampunbg yang harus mengaji saja. Keesokan harinya ibu si Dul mendapat berita bahwa suaminya kecelakan dan meninggal dunia.
     Setelah tujuh hari berlalu makin terasa kesengsaraan, semua barang telah habis terjual dan akhirnya ibu si Dul berjualan nasi ulam. Karena engkongnya melarang wanita untuk berjualan diluar rumah. Lama waktu telah berlalu, kehidupan si Dul makin membaik, ibunya sudah mempunyai suami baru. Dan si Dul juga mempunyai saudara tiri bernama Marjuki. Tetapi sesungguhnya engkongnya tidak menyetujui pernikahan itu karena agama laki-laki tersebut tidak jelas. Bapak tiri si Dul berniat menyekolahi si Dul tetapi tidak boleh oleh engkongnya. Anak betawi tidak perlu sekolah yang penting sholat dan mengaji katanya. Karena sifat engkongnya seperti itu semua kemauannya harus dituruti. Pak lurah mengetahui hal itu dan menyuruh si Dul bersekolah, urusan dengan engkongnya pak lurah lah yang mengatur. keinginan si Dul pun tercapai meski tidak mendapat izin sepenuhnya dari Uak Salim engkongnya itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Free Rainbow ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
 

Chacaa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei